Lukas 10 : 25-37; 1 Yohanes 4 : 18
Sebelumnya saya hanya memiliki pengertian yang sederhana tentang salah satu bagian Alkitab yang terdapat pada 1 Yohanes 4 : 18 yang berbunyi, "di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih". saya tidak mencoba lebih mengerti bagian ini selain dari ketakutan yang akan dialami oleh seseorang yang kasihnya tidak mendapat respon dari orang yang dikasihinya.
Kemarin ketika saya ikut menghadiri sebuah kebaktian mahasiswa, saya menjadi lebih mengerti tentang satu hal yaitu bahwa ketakutan yang dimaksud bukan hanya takut ketika tidak direspon tetapi juga ketakutan akan penolakan yang menyakitkan bahkan kebencian dan penganiayaan.
saya merenungkan dan mengevaluasi kasih yang saya miliki selama ini. ternyata saya mendapati bahwa saya adalah seorang yang tidak tahu mengasihi dengan keberanian. banyak bagian dari hidup saya yang tidak menyatakan kasih kepada Allah dan juga kepada sesama. misalnya, dalam lingkungan keluarga, saya tidak berani menceritakan tentang kasih Yesus kepada orang tua saya yang belum percaya atau setidaknya saya tidak menyembunyikan identitas saya sebagai seorang kristen di depan orang tua saya. saya takut mereka akan memarahi saya atau bahkan membenci saya. namun itu berarti saya tidak menyatakan kasih saya dan kasih Allah kepada mereka.
di bidang pekerjaan, saya tidak berani menyatakan sesuatu yang keliru dan menyatakan kebenaran yang seharusnya dilakukan. saya menutup mata dan mulut saya terhadap ketidak benaran dan ketidak adilan. saya takut atasan saya marah dan membenci saya. tetapi sekali lagi itu berarti saya tidak mengasihi mereka.
Perbuatan orang samaria yang baik hati dalam Injil Lukas 10 : 25-37 menyatakan bahwa ia memiliki kasih yang berani. sekalipun ia adalah orang samaria yang tidak dihargai/dibenci oleh orang Yehuda/Yerusalem, namun ia tetap menyatakan kasihnya dengan menolong orang yang dirampok itu. Dia bisa saja ditipu atau bahkan diperdaya oleh orang jahat yang berpura-pura dirampok di jalan tetapi ia tidak takut. ia menolong orang itu sampai tuntas.
Beranikah kita mengasihi tanpa ketakutan?
No comments:
Post a Comment