Salah satu “penyakit” yang melanda hampir semua orang dewasa ini bernama kesepian. Bahkan keadaan ini juga dialami oleh para tokoh iman di dalam Alkitab. Tidak sedikit orang menjadi putus asa bahkan sampai mengakhiri hidupnya karena kurangnya kemampuan untuk mengatasi kesepian. Berikut ada tips singkat bagi Anda yang sedang bergumul dengan kesepian.
1. Terimalah apa yang tak terhindarkan. Faktanya adalah setiap orang di dunia ini pernah mengalami kesepian setidaknya sekali dalam hidupnya. Ada orang yang sedikit sekali mengalami kesepian, sementara yang lain mengalaminya lebih banyak. Akan ada saatnya orang yang kita kasihi pergi untuk pindah pekerjaan, pindah rumah, atau bahkan meninggal. Jadi, kesepian merupakan hal yang tidak terhindarkan untuk terjadi. Terimalah dan sadarilah dengan sepenuh hati.
2. Dapatkan manfaat dari kesepian. Apakah situasi kesepian dapat bermanfaat bagi kita? Ya. Ketika merasa kesepian, kita dapat menggunakannya untuk lebih banyak berdoa, meditasi, atau mengevaluasi hidup kita. Kesepian juga dapat membantu kita mengembangkan pemahaman dan belas kasih terhadap orang lain yang merasakan hal serupa. Faktanya adalah ada begitu banyak orang di sekeliling kita begitu tersiksa dengan kesepian yang dialaminya. Mungkin kelak, kehadiran kita dapat berarti banyak baginya.
3. Bangun keintiman dengan Allah. Kurangnya kedekatan dengan Allah menjadi penyebab terbesar seseorang merasa kesepian di dunia ini. Ada ruangan kosong dalam hati yang hanya dapat diisi oleh Allah sendiri, bukan manusia lain. Jangan abaikan pentingnya relasi Anda dengan Allah!
4. Ulurkan tangan persahabatan. Salah satu penangkal paling mujarab mengatasi depresi yang timbul karena kesepian adalah mengulurkan tangan persahabatan. Uluran tangan persahabatan seorang Yonatan terhadap Daud adalah contoh terbaik di dalam Alkitab mengenai hal ini. Praktikkanlah sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang mengarahkan Anda untuk mendapatkan lebih banyak teman dan sahabat, bukan memperbanyak musuh dan lawan.
*) Disadur dari Out of The Blues/Dr. Wayne M./ Penerbit ANDI
Sumber: Renungan Siang, Februari 2010 (ebahana.com)
No comments:
Post a Comment