Waktunya Benih itu bertumbuh

Pengkhotbah 3 : 1,11

Ada saat-saat di dalam perjalanan kehidupan kita dimana kita merasa goyah dan ragu untuk terus berjalan dengan Tuhan. Berjalan terus tidak hanya soal setia kepada Tuhan tetapi menuntut pengorbanan yang lebih dan tantangan yang semakin berat yang harus kita hadapi di depan kita.

Sejak kemarin, setelah saya melakukan saat teduh di pagi hari - dan memperoleh teguran Tuhan bagaimana kenyataan hidup saya yang sebenar-benarnya di hadapan-Nya dimana saya sesungguhnya sedang hidup dalam kemunafikan- saya merasa stress dan merasa tidak berdaya untuk terus berjalan bersama-Nya.

Dalam benak saya, Tuhan tidak akan mengerjakan perkara yang lebih besar dalam kehidupan saya, jika saya tetap hidup dalam kemunafikan. Saya tertekan sepanjang hari sehingga membuat saya merasa lemah dan kehilangan semangat dalam menjalani setiap aktivitas saya. Kebimbangan itu pada ujungnya membuat saya kompromi dengan dosa dan kembali melakukan salah satu bagian dari hidup lama saya.

Selang beberapa lama, ketika saya menyadari bahwa dalam keadaan itu pun saya sesungguhnya tidak mendapati apa-apa, saya menyesal dan mengakui kesalahan saya di hadapan-Nya. Kemudian Dia berbicara dengan lembut tentang satu hal yang dahulu merupakan pandangan saya yang keliru. Hal itu adalah ketika kita gagal mengasihi Allah dengan kasih yang sempurna, kita tidak layak melayani-Nya.

Ia mengingatkan saya tentang kisah percakapan-Nya dengan salah satu murid-Nya, Rasul Petrus, di dalam Yohanes 21: 15-17. Dalam kisah itu, Tuhan bertanya tiga kali kepada Petrus, apakah ia mengasihi Yesus?. Tuhan bertanya tentang kasih Agape yang sempurna dan Petrus hanya bisa menjawab dengan kasih Philia yang terbatas. Meskipun demikian, Tuhan tetap memberikan perintah kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba milik-Nya.

Terkadang Allah "membiarkan" kita berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan untuk membawa kita pada momen tertentu dimana Ia ingin berbicara tentang sesuatu kepada kita. Mungkin hal tersebut sudah sering kita dengar atau sudah terekam dalam otak kita tetapi belum "bertumbuh" di dalam hati kita. Firman-Nya seringkali ditaburkan tetapi tidak langsung bertumbuh, ada kalanya kita dapat langsung menerapkannya tetapi di lain sisi, kita tidak langsung menerapkannya karena belum diperhadapkan pada waktu yang tepat sehingga kita sering melupakan firman tersebut.

Setiap waktu di dalam hidup kita bisa merupakan waktu-Nya Tuhan untuk berbicara dan menumbuhkan benih firman-Nya. untuk itu dibutuhkan kepekaan dan penyerahan diri secara terus menerus agar kita tidak melewatkan momen itu di dalam hidup kita.

Pekalah dan biarlah kita dapat merasakan sentuhan-Nya di setiap waktu dan tempat dimanapun kita berada. Gbu.


No comments:

Post a Comment